Indonesia di Peringkat Tiga Kasus Kusta Terbanyak, Pemerintah Genjot Eliminasi 2030
RumahSehatku.com - Jakarta, 23 Agustus 2025 – Kusta masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae ini tidak hanya berdampak fisik, tetapi juga sosial, terutama akibat stigma yang melekat pada penderitanya.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyebutkan bahwa Indonesia kini menempati peringkat tiga kasus kusta terbanyak di dunia, setelah India dan Brazil. “Indonesia memang berada di posisi ketiga terbesar setelah India dan Brazil,” ujar Dante saat konferensi pers di Tangerang, Kamis (14/8/2025).
Baca Juga: Pakar IPB: Kenali Jenis Gula dan Cara Bijak Mengonsumsinya agar Terhindar dari Diabetes dan Obesitas
Peta Tantangan Kusta di Indonesia
Meskipun tidak merinci jumlah kasus, Dante menegaskan kusta tetap endemis di sejumlah wilayah. Penyakit ini termasuk dalam daftar 21 penyakit tropis terabaikan yang menjadi target eliminasi global. Penanganan kusta menuntut strategi komprehensif, tidak hanya dari sisi medis tetapi juga sosial dan lingkungan.
Strategi Eliminasi Hingga 2030
Pemerintah menargetkan eliminasi kusta di 111 kabupaten/kota
pada 2030. Strategi yang diterapkan meliputi:
- Deteksi
dini gejala kusta.
- Penguatan
layanan kesehatan di puskesmas.
- Penyebaran
informasi yang benar mengenai penyakit kusta.
- Penghapusan
stigma terhadap penderita.
- Pemberdayaan
mantan penderita untuk menjadi agen informasi.
- Kemitraan
lintas sektor antara pemerintah pusat dan daerah.
“Target eliminasi kusta dinaikkan menjadi 111 kabupaten/kota pada 2030,” tambah Dante.
Pengenalan Gejala dan Pencegahan
Masyarakat diimbau mengenali gejala kusta sejak dini. Dengan
pengetahuan yang cukup, penderita dapat segera mencari pengobatan. Pemerintah
juga memberikan kemoprofilaksis kepada kontak erat penderita untuk mencegah
penularan.
“Kemoprofilaksis diberikan untuk mencegah penyakit muncul pada mereka yang kontak dekat dengan penderita,” jelas Dante.
Lingkungan Sehat dan Penghapusan Stigma
Lingkungan bersih terbukti mengurangi risiko penyebaran penyakit tropis terabaikan. Dante menekankan bahwa penghapusan stigma sangat penting karena stigma sering membuat pasien enggan memeriksakan diri, yang memperlambat diagnosis dan meningkatkan risiko penularan.
Akses Pengobatan di Puskesmas
Kini pengobatan kusta tersedia di puskesmas, sehingga pasien tidak perlu dirujuk ke rumah sakit kecuali dalam kasus gejala berat atau cacat. “Kasus ringan bisa langsung ditangani di puskesmas. Rumah sakit hanya untuk kasus berat,” ujar Dante. Dengan kemudahan akses ini, diharapkan pasien segera memulai terapi dan mencegah komplikasi lebih lanjut.